Signify Hadirkan LED Dengan Teknologi Baru Interlaced Optics

Penelitian  global  baru,  mengungkapkaqn bahwa hampi dua pertiga orang tua khawatir anak mereka akan membutuhkan kacamata di masa depan. Survey ini dilakukan  di negara Tiongkok,  Republik Ceko,  Prancis,  Jerman,  Indonesia,  Polandia,  Spanyol,  Swedia,  Thailand,  Turki dan Amerika Serikat.

Kekhawatiran orang tua terhadap penglihatan anak-anak mereka dimasa depan,  dipicu oleh maraknya pemakaian gawai yang membuat anak-anak harus menatap layar pada dekade ini. Kekhawatiran ini,  bahkan melebihi kekhawatiran orang tua terhadap kinerja anak-anak di sekolah, tingkat stress dan kesehatan mental, pola tidur, berat badan dan tingkat kebugaran anak.

Maklumlah anak-anak di dunia saat ini,  rata-rata menghabiskan 3 jam sehari di depan layar baik itu ponsel, tablet,  komputer maupun TV.

Karenanya hampir tiga per empat orangtua percaya bahwa memperbaiki pola makan,  mendorong anak bermain di luar ruangan setidaknya 40 menit tiap 1 jam menatap layar serta membatasi waktu membaca akan memperbaiki kualitas penglihatan anak di masa depan.

Dalam meningkatkan prestasi anak-anak di sekolah ternyata lebih dari dua pertiga orangtua menyadari pencahayaan yang berkualitas dalam proses belajar mereka.  Pilihan pada produk Signify yang dahulu lebih dikenal dengan Philip Lighting menyediakan salah satu inovasi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dengan menyediakan Philip LED yang berkualitas tinggi yang nyaman di mata.

Sebagai perusahaan yang telah memimpin dunia dalam bidang pencahayaan, Signify memimpin inovasi LED dengan Teknologi Baru Interlaced Optocs yang terpatenkan.

Terinspirasi dari bunga matahari untuk meningkatkan kenyamanan mata,  pola yang tercetak pada bohlam Philip MyCare LED memungkinkan penyebaran cahaya lebih merata,  mengurangi silau hingga 35%.

Signify sebagai inovator terdepan dalam pencahayaan LED hemat energi, sudah mematenkan interlaced optics yang diaplikasikan pada bohlam Philip LED,  funsgsinya menyebarkan dan memantulkan cahaya. Polanya mampu mengurangi silau-terang  berlebih yang ditimbulkan oleh pancaran cahaya tajam dari pusat bohlam hingga 35%.

Pola ini juga mendistribusikan kembali cahaya pintar,  meningkatkan sudut pancaran cahaya segingga dapat menerangi area yang lebih luas secara lebih merata. Bohlam LED ini juga menghemat energi hingga 60% dibndingkan dengan lampu flouresen padaat,  membuja jalan untuk masa depan yang lebih baik.

 

 

Peluang Kerja Bidang Ekonomi Kreatif Bagi Perempuan di Jaman “Now”

Dari kiri ke kanan Bapak Ricky Pesik-SheilaTimothy – Imperia Oktabrinda-Timothy Marbun

 

 

 

 

 

 

Investing in Women bersama Katadata menggelar seminar bertajuk Perempuan dalam Ekonomi Kreatif, Senin, 29 Oktober 2018 di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat. Seminar yang merupakan kali kedua kerjasama Katadata dan Investing in Women, menghadirkan tiga narasumber yaitu Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Bekraf Ricky Pesik, Produser Film Sheila Timothy, dan Head of Strategic Planning at FCB Jakarta Imperia Oktabrinda, serta moderator Timothy Marbun.

Perempuan mendominasi serapan tenaga kerja perempuan di sektor industri kreatif. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bekraf dalam laporan ‘Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif’, menyebut perempuan secara konsisten menjadi pemain utama industri kreatif sejak 2011 hingga 2016. Persentase perempuan di sektor ini sebesar 53,86 persen. Angka yang cukup mencolok bila dibandingkan dengan komposisi industri pada umumnya, di mana pekerja perempuan hanya sekitar 37,16 persen dan laki-laki sebesar 62,84 persen.

Pada 2016 perempuan yang bekerja di sektor ekonomi kreatif sebanyak 9,4 juta orang.
Sensus Ekonomi 2016, juga menunjukkan perempuan Indonesia masih memimpin persentase kepemilikan usaha ekonomi kreatif. Pengusaha perempuan memiliki angka keterwakilan sebesar 54,96 persen, sementara laki-laki 45,04 persen.

Industri ekonomi kreatif juga membuka kesempatan bagi perempuan untuk memberdayakan diri, khususnya secara ekonomi. Salah satu kesempatan dan peluang cukup besar ada di industri film. Tahun-tahun terakhir Indonesia memunculkan para filmmaker perempuan yang ambil bagian di industri ini.

Perempuan berperan di semua lini di industri film, sebagai sutradara, script writer, produser, hingga teknik audio video. Karya-karya para filmmaker perempuan mulai bisa dinikmati para pencita film tanah air. Sheila Timothy misalnya, hadir dengan film-film laris seperti Wiro Sableng, Banda, dan mengangkat tema ekonomi kreatif kuliner berjudul Tabularasa.
Meski demikian peran permpuan di industri film, animasi, dan video hanya 11, 53 persen, sisanya masih ada di tangan laki-laki. Pun dengan desain komunikasi visual yang baru memberi tempat 7,95 persen untuk perempuan, dan pada indstri TV dan radio perempuan mengambil porsi 15,01 persen.

Dari 16 sub sektor ekonomi kreatif hanya ada dua yang dikuasai perempuan. Yaitu subsektor kuliner yang melibatkan perempuan dengan persentase 58,68 persen dan pada subsektor fesyen 54,25 persen. Pada 14 subsektor lainnya masih didominasi laki-laki.

Head of Strategic Planning at FCB Jakarta Imperia Oktabrinda mengarisbawahi pentingnya industri periklanan di Indonesia mempromosikan partisipasi perempuan dalam industri kreatif, serta tingkat signifikansi peran perempuan dalam industri periklanan untuk mengubah stereotype. Ini karena industri periklanan kerap menggunakan perempuan sebagai objek dalam iklan, meskipun target marketnya laki-laki. Alasannya untuk menarik perhatian target pasar. Sebaliknya untuk produk dengan target market perempuan, perempuan tetap tamp