Mimpi Bagaimana Agar Internet Murah Demi Memajukan Ekonomi Digital

Telekomunikasi adalah salah satu sektor strategis andalan perekonomian Indonesia. Sektor ini berperan sebagai mesin penggerak ekonomi.

Tak bisa dipungkiri sektor telekomunikasi adalah penggerak ekonomi Indonesia. Telekomunikasi adalah salah satu sektor strategis andalan perekonomian Indonesia. Sektor ini berperan sebagai mesin penggerak ekonomi yang selalu tumbuh paling kencang, rata-rata di atas 10% selama lebih dari satu dekade. Ini melebihi rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional di Kisaran 5 hingga 6% per tahun.

Besarnya kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi membuat jumlah pengguna telepon seluler dan internet terus meningkat.

 Bahkan jumlah pelanggan seluler melebihi jumlah penduduk Indonesia, karena rata-rata 1 orang bisa menjadi pelanggan beberapa provider secara bersamaan.

Di Indonesia rata-rata pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi sejak tahun 2001 hingga sekarang mengalami kenaikan sebesar 19%.

Pada tahun 2014 ada 88 juta pelanggan pengguna internet dan kini di tahun 2016 telah mencapai 133 juta pelanggan.

Pengguna ponsel mencapai 250 juta pelanggan pada tahun 2011 dan pada tahun 2015 mencapai 368 juta pelanggan.

Sedangkan industri manufaktur telekomunikasi mencapai 297 unit pada tahun 2011 dan pada tahun 2013 mencapai 351 unit.

Perkembangan ini memberi dampak pada transaksi e-commerce pada tahun 2014 mencapai 34 Triliun Rupiah dan pada tahun 2016 mencapai 260 Triliun Rupiah.

[5/12 16.16] Gesang Sari Mawarni: Sektor telekomunikasi memberikan sumbangan terhadap PDB hingga 10% dari generasi broadband dan 20% pertumbuhan investasi ini sama dengan 1% dari PDB

[5/12 16.52] Gesang Sari Mawarni: Perkembangan teknologi informasi dan infrastruktur komunikasi yang diiringi kebijakan penyerapan tingkat kandungan dalam negeri atau (TKDN) telah mendorong pertumbuhan industri telekomunikasi tanah air. Geliat industri ini ikut berkontribusi pada perekonomian nasional yang memberikan efek berganda.

Pengguna ponsel dan internet tumbuh sejak tahun 2010 pelanggan rumah tangga pemilik telepon kabel telah beralih kepada pengguna internet dan pengguna seluler.

Pada tahun 2010 pengguna telepon kabel di rumah tangga mencapai 9,5 juta dan pada tahun 2014 menurun menjadi 5,5 juta.

Sedangkan pengguna internet dari tahun 2010 yang mencapai 40 juta kurang menjadi 80 juta pengguna pada tahun 2014.

Jadi intinya pertumbuhan telekomunikasi telah membuat perkembangan infrastruktur dan meningkatkan geliat industri di Indonesia efek positifnya bagi negara kita impor menjadi turun untuk impor ponsel dan komputer tablet.

[5/12 16.55] Gesang Sari Mawarni: Pemerintah Indonesia bertekad mendorong perkembangan ekonomi digital. Potensi bisnis yang besar dan sejumlah terobosan yang telah dijalankan diharapkan bisa membuat Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada tahun 2020. Diharapkan Indonesia mampu menuju raksasa  e-commerce ASEAN

[5/12 17.07] Gesang Sari Mawarni: Menurut Presiden Joko Widodo potensi pasar ekonomi digital Indonesia yang sangat besar ini tidak boleh ditinggal begitu saja

Tahun 2016 ini pengguna internet mencapai 133 juta ini merupakan 52% dari populasi yang ada di Indonesia sedangkan pengguna telepon seluler mencapai 308,2 juta jiwa sedangkan pengguna Ponsel pintar mencapai 63,4 juta komposisi penduduk pemakai adalah 135 juta usia muda di bawah 35 tahun dan dari semua pengguna ini 56000000 adalah u KM yang memiliki kontribusi 55,6% terhadap PDB hal ini merupakan penemuan dari sebuah penelitian dari mikansei global Institute bahwa aku KM yang beralih ke digital mampu tumbuh dua kali lipat dibanding yang tak masuk ke ranah digital dilihat dari nilai transaksi e-commerce tahun 2014 mencapai 34 triliun dan perkiraan untuk tahun 2016 mencapai 260 triliun dan ditargetkan pada 2020 mencapai 1690 triliun

Sistem perdagangan berbasis elektronik pada 2015 hingga 2019 jumlah upaya terkait 7 isu strategis ekonomi digital yang dijalankan pemerintah yaitu mencakup logistik pendanaan infrastruktur Perlindungan Konsumen pajak keamanan cyber pendidikan dan SDM

Namun sayangnya jangkauan sinyal dan akses data belum rata sinyal seluler secara umum telah menjangkau 91% desa di seluruh Indonesia kualitas sambungan internet belum merata di Jawa terutama Jakarta kecepatan sinyal sudah kencang Diany mencapai 7 mbps tetapi di luar Jawa kecepatanya masih rendah bahkan di Maluku dan papua kecepatan mengunduh masih dibawah 1 mbps

Jika kita membandingkan kemampuan mengunduh di Sumatera hanya 2,1 mbps dan kemampuan mengunggah hanya 600 kbps sedangkan di Jakarta kemampuan mengunduh 7 mbps dan mengunggah 2,3 mbps kalau kita melihat seluruh area di Jawa kemampuannya adalah 3,5 mbps untuk mengunduh dan 1,3 mbps untuk mengunggah

Untuk Maluku dan papua kemampuan mengunggah hanya 115 kbps dan kemampuan mengunduh 300 kbps untuk Bali dan Nusa Tenggara kemampuan mengunduh 1,5 mbps dan mengunggah 600 kbps untuk area Kalimantan kemampuan mengunduh 1,9 mbps dan kemampuan mengunggah 700 kbps

Jadi berdasarkan jangkauan sinyal berdasarkan sensus telekomunikasi 2014 yang dilakukan BPS jangkauan sinyal seluler di Indonesia sudah mencapai 91% wilayah berpenduduk

Untuk sinyal kuat telah mencapai 68% yang terdiri dari 56000 desa dan kelurahan sedangkan sinyal lemah mencapai 23% yang mencapai 19000 desa dan kelurahan sedangkan tidak ada sinyal mencapai 9% yang terdiri dari 7000 desa dan kelurahan

Ketimpangan kualitas akses data ini merupakan tantangan yang dihadapi Indonesia yang disebabkan oleh sebaran penduduk dengan kondisi geografis karena 20% penduduk bermukim di kawasan lereng 4% bermukim di kawasan lembah dan 76% bermukim di wilayah dataran

Ada yang perlu kita ketahui bahwa koneksi internet di Indonesia itu tumbuh pesat namun lambat kecepatan akses internet Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi di dunia menurut laporan State of the internet yang dirilis akamaitechnologies kecepatan koneksi rata-rata internet Indonesia tumbuh 148% pada Kuartal kedua tahun 2016 terhadap periode yang sama pada tahun 2015 Kendati begitu kecepatan rata-rata internet Indonesia masih dibawah rata-rata dunia

Kecepatan akses internet Indonesia per Kuartal kedua tahun 2016 mencapai 5,9 mbps dibawah kecepatan koneksi rata-rata dunia 6,1 mbps

Kecepatan akses internet Asia Pasifik tercepat nomor satu yaitu Korea Selatan, Singapura pada urutan kedelapan dengan kecepatan 17,2 mbps, Thailand di urutan 26 dengan kecepatan 13,7 mbps. Sedangkan Indonesia pada urutan 79 dengan kecepatan 5,9 mbps

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa ingin jangkuan ber dan Telekomunikasi semakin luas sehingga program pemerintah mempercepat akses internet di Indonesia dengan memberikan Palapa ring atau jaringan fiber optik bawah laut, sepanjang 13000 kilometer dengan nilai komersial senilai 21 Triliun Rupiah

Rencananya pita lebar Indonesia pada tahun 2014-2019 dengan jumlah  anggaran senilai 278 Triliun Rupiah atau senilai 10% dari APBN mampu memberikan kecepatan koneksi untuk 71% rumah tangga di perkotaan dengan kecepatan 20 mbps dan 49% rumah tangga di pedesaan dengan kecepatan 10 mbps

Sebenarnya penyebab ekonomi biaya tinggi pada telekomunikasi adalah tarif interkoneksi. Tingginya tarif interkoneksi menjadi penyebab mahalnya tarif panggilan telepon antar operator alhasil Ini menimbulkan pemborosan karena konsumen cenderung menggunakan lebih dari satu kartu subscriber identity module atau SIM untuk menghindari telepon antar operator. Tarif interkoneksi juga menyebabkan rendahnya persaingan antar operator sehingga mengurangi insentif dalam inovasi layanan yang lebih baik.

Perbedaan tarif yang cukup tinggi menyebabkan konsumen menggunakan ponsel dual SIM atau dua ponsel untuk menghindari panggilan antar operator ini menyebabkan ekonomi biaya tinggi di sektor Telekomunikasi Indonesia.

Penggunaan ponsel dual SIM di Indonesia tinggi 2,4 triliun Rp pemborosan dari penggunaan lebih dari satu perangkat ponsel dan kartu SIM ditemukan data 68% konsumen menggunakan ponsel dual SIM 10% konsumen membawa 2 perangkat ponsel dan 1,8 rasio penggunaan kartu simpel konsumen.

Sedangkan pemborosan akibat kartu SIM yang hangus mencapai 2,1 Triliun Rupiah di Indonesia paling tinggi untuk negara di ASEAN. Filipina hanya mencapai 4 sampai 6% sedangkan Malaysia 2 sampai 4% Vietnam 9 sampai 11% sedangkan Indonesia 10 hingga 14%

Dalam rangka penghematan justru 44 trilyun rupiah kehilangan potensi kesejahteraan masyarakat karena mengurangi panggilan telepon

Bayangkan selisih tarif telepon di Indonesia 10 kali lipat tarif telepon antar operator dibandingkan dengan tarif ke sesama operator

Sedangkan tarif interkoneksi tiga kali lebih mahal dari tarif telepon ke sesama operator

Jika ada penurunan tarif interkoneksi diharapkan mampu menurunkan atau menghilangkan perbedaan tarif telepon dapat mengurangi kartu sim ganda yang tidak terpakai ataupun chrun. Meningkatkan kompetisi antar operator, dan mendorong operator melakukan Inovasi dan berinvestasi lebih

Merupakan kolaborasi dua atau lebih operator dan penyedia infrastruktur telekomunikasi untuk menekan biaya operasional dan belanja modal ada dua skema berbagi jaringan yakni aktif dan pasif di Indonesia skema kolaborasi masih bersifat pasir Yani sekedar berbagi lokasi pemancar menara keamanan atau daya listrik sedangkan skema aktif yang meliputi jaringan transmisi dan frekuensi baru sebatas rencana

Praktek Network sering di dunia dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pita frekuensi sekaligus meluaskan jangkauan layanan pita lebar atau broadband. Dampaknya layanan semakin baik dan harga lebih murah praktek jaringan ini lumrah dilakukan di sejumlah negara.

Jadi untuk sekema aktif Network sharing operator tidak hanya berbagi Fasilitas Pasif tapi juga jaringan transmisi dan fasilitas aktif, seperti multi operator a Network multi operator for Network jitu ekor Network dan roaming. sedangkan pada skema Network sharing yang pasif operator saling berbagi fasilitas teknis yang bersifat pasif seperti lokasi bangunan Menara pendingin ruangan saluran kabel dan keamanan

Meskipun masih menjadi perdebatan, sistem Network sharing atau penggunaan bersama jaringan diyakini akan mendorong pemerataan mengatasi akses telekomunikasi dan internet. Pelaku industri pun diuntungkan karena biaya investasi menjadi lebih murah

Jika Network sharing berhasil dilakukan maka akan mendapatkan jaminan investasi pemerintah yang membuat efisiensi biaya untuk semua dan perluasan jangkauan dan akses ke masyarakat keuntungannya juga operator akan fokus pada layanan sehingga peningkatan kualitas data dan suara mampu didapatkan sehingga harga produk bisa bersaing diharapkan kedepannya penggunaan internet meningkat sehingga peluang bisnis digital terbuka dan alternatif layanan ke pelanggan akan meningkatkan produktivitas ekonomi di kita yang semakin naik

Di Indonesia kepemilikan infrastruktur jaringan atau BPS 2015 untuk Telkomsel mencapai 103 289 unit sedangkan Smartfren 9025 khusus hanya untuk 4G LTE Sedangkan untuk jaringan 3 mencapai 39054 unit sedangkan Indosat ooredeo mencapai 50687 unit sedangkan XL Axiata mencapai 58879 unit

Penerapan netbook sering akan membantu percepatan perluasan akses telekomunikasi ke pelosok daerah. Dengan skema berbagi maka tingkat utilitas jaringan akan meningkat yang akan menaikkan volume traffic di saat yang sama biaya layanan menurun seiring berkurangnya investasi yang harus dikeluarkan penyedia jasa atau operator berikut pengalaman sukses di sejumlah negara.

Di Inggris di Inggris Network sharing mampu melakukan penghematan 2 miliar SD untuk 10 tahun dan tarif turun hingga 23% sedangkan di Perancis mampu menghemat 410 juta you SD per tahun dan tarif turun lebih dari 30% sedangkan di Swedia penghematan 50% dari capex dan tarif turun hingga 30% di India penghematan mencapai 1 miliar Rio SD untuk 5 tahun dan mengakibatkan konsumsi data naik sedangkan di Australia penghematan mencapai 300 juta SD selama 5 tahun sehingga tarif turun 4,6% pada tahun 2010

Diharapkan dengan adanya revisi PP nomor 52 dan PP nomor 53 operator akan lebih efisien pemerintah berencana merevisi Peraturan Pemerintah PP nomor 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi dan PP nomor 53 tahun 2000 tentang penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit Perubahan tersebut merupakan upaya mempercepat pembangunan infrastruktur telekomunikasi sekaligus meningkatkan daya saing operator sehingga dapat memberikan layanan yang lebih efisien bentuk perubahan yang akan dilakukan meliputi pemanfaatan infrastruktur secara bersama penegasannya bahwa operator dapat bekerja sama membangun mengoperasikan yang memanfaatkan jaringan Selain itu operator mampu mengakomodasi berbagai model kerjasama antara penyelenggara jasa dan jaringan penyederhanaan peraturan dan menghapuskan kontribusi u s o berupaya biaya interkoneksi, ada pedoman umum mengenai aksi korporasi yang dilakukan operator kemudahan izin dari pemerintah

Sedangkan spektrum frekuensi radio penegasan aturan mengenai penggunaan frekuensi bersama antara operator pengalihan izin penggunaan pita frekuensi diperbolehkan dengan izin menteri-menteri dalam menentukan penentuan besaran biaya hak penggunaan spektrum frekuensi radio

Menurut menteri komunikasi dan Informatika rudiantara revisi PP 52 tahun 2000 dilakukan agar pembagian peran antar penyelenggara jaringan telekomunikasi lebih sinergis sedangkan perbaikan PP 53 Tahun 2000 akar penggunaan spektrum frekuensi dapat mendukung program pembangunan akses pita lebar nasional  setara maksimal

Diharapkan ada dampak perubahan dari revisi PP 52 dan 53 ini yaitu meningkatkan persaingan antara operator mengubah skema bisnis operator mengubah modern di sensing yang menitikberatkan pada jangkauan dan kualitas layanan mengubah harga layanan yang dibayarkan konsumen potensi keuntungan b u m n dari peningkatan utilisasi jaringan membuka peluang munculnya layanan mobile virtual Network operator mvno

Pada tanggal 29 November 2016 Saya sempat menghadiri sebuah diskusi publik yang membahas tentang efisiensi industri telekomunikasi untuk pengembangan ekonomi digital yang bertempat di intercontinental Midplaza hotel Jakarta Pusat acara ini dihadiri oleh beberapa tokoh seperti rudiantara menteri kominfo toko hayati Onno W Purbo

Revisi PP telekomunikasi diharapkan mampu mendorong penentrasi internet Kementerian komunikasi dan Informatika bertingkat mempercepat revisi PP nomor 52 tahun 2000 mengenai penyelenggaraan telekomunikasi revisi tersebut merupakan upaya yang mendorong peningkatan penetrans internet di seluruh Indonesia langkah ini diperlukan agar Indonesia bisa menikmati berkah ekonomi digital yang Tengah berkembang

Revisi PP diperlukan untuk membangun Indonesia agar tidak tertinggal ujar Menteri komunikasi dan Informatika rudiantara di acara katadata forum bertajuk konektivitas Telekomunikasi Indonesia di era ekonomi digital

Salah satu dampak dari revisi PP tersebut adalah terbukanya kesempatan taktik Network sharing antar operator operator yang tidak memiliki infrastruktur di wilayah tertentu bisa menyediakan layanan dengan memanfaatkan jaringan yang dibangun oleh operator yang sudah eksis dan Seseorang itu harus bukan barang baru kata rudiantara

One thought on “Mimpi Bagaimana Agar Internet Murah Demi Memajukan Ekonomi Digital”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *