Optimisme Industri Otomotif Toyota Astra dibalik Meningkatnya Problematika Kemacetan

*

Jika kamu sedang ada di jalanan macet, kira-kira apa yang ada di benakmu? Kalau saya bermimpi punya sepatu ajaib atau minimal kendaraan ajaib yang bisa menembus gurita kemacetan.

Apalagi sejak tinggal di ibukota, saya nyaris seringkali menumpang angkutan umum untuk membelah lalu-lintas Jakarta. Berkendaraan sendiri bagi saya yang belum paham lalu lintas Jakarta, tentu beresiko tinggi terhadap keamanan berlalu lintas. Kemacetannya seakan sebuah gurita yang sangat susah dilerai keruwetannya.

Selain karena kurang disiplinnya pemakai jalan. Pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin bertambah baik karena migrasi maupun karena peningkatan jumlah kelahiran tak bisa dipungkiri sebagai awal biang kemacetan.

Dan bagaikan gelindingan bola es yang makin membesar, tak pelak akhirnya kebutuhan akan kendaraan juga meningkat. Jadi jangan salah, itulah salah satu sebab jumlah kendaraan pribadi juga ikut meningkat.

Meningkatknya kualitas dan kuantitas moda transportasi darat yg disediakan pemerintah untuk memberikan alternatif transportasi selain kendaraan pribadi sebenarnya sebuah upaya agar masyarakat menengah ke atas pun tak segan untuk memakai alat tranportasi busway, KRL dan lain-lain.Bukan justru berkendaraan pribadi untuk pergi melakukan aktivitas hariannya.

Anehnya, di tengah kampanye pemerintah agar masyarakat menggunakan moda transportasi umum agar mengurangi kemacetan, ternyata justru pabrik mobil Toyota Astra yang tak jauh dari rumah saya, jumlah produksinya tak berkurang bahkan cenderung bertambah.

Hampir tiap hari mobil baru diangkut truk-truk khusus ke Pelabuhan Tanjung Priok. Beraneka warna dan rupa mobil diproduksi. Sungguh takjub saya dengan fakta ini, hingga saya pun ternyata bergumam, mana diantara 1 mobil itu yang nanti bisa menjadi hak milik saya?

Meskipun sering saya melewati jalan raya depan pabrik Toyota Astra Sunter, sekalipun saya belum pernah masuk ke area pabrik tersebut.

Hilir mudik mobil yang telah diproduksi, barisan rapi pegawai yang masuk ataupun keluar pabrik, dentuman mesin, aroma cat, suara sirene ganti shift pekerja pabrik ataupun suara speaker komando pada pekerja sering saya saksikan sambil mengendarai angkutan umum.

Hingga 5 tahun saya di Jakarta saya hanya sempat mengikuti pelatihan guru di gedung pelatihan Toyota Astra. Memang CSR perusahaan ini begitu peduli pada pendidikan masyarakat sekitar dan pendidikan untuk guru adalah salah satu bentuknya.

Jelas dong, isi pabriknya masih membuat saya penasaran. Hingga akhirnya, salah satu tim Sahabat liputan6dotcom mas Hadityo menawarkan saya dan beberapa teman blogger untuk ikut berkunjung ke pabrik Toyota Astra di Karawang. Sungguh ini jawaban dari sebuah cita-cita terpendam saya yang tak saya sadari sebenarnya, yaitu ingin masuk melihat pabrik Astra.

Kesempatan yang saya tunggu akhirnya tiba. Hari Kamis tanggal 23 Februari kami blogger dan mahasiswi campus cj liputan6dotcom berangkat bersama-sama menuju PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Pant 1 di Karawang.

Wkwkwk, jauh amat saya perginya ke Karawang demi untuk bisa melihat produksi mobil dari dekat. Kalau di Sunter yang dekat rumah, sebagai orang luar, saya kan hanya bisa nengok dari kejauhan, nah di Karawanglah saya bisa melihat lebih dekat seluk beluk produksi benda otomotif beroda 4 ini.

Bismillah pukul delapan pagi bis yang membawa rombongan kami mulai berangkat ke Karawang Alhamdulillah pukul jam 10.00 WIB, kami sudah sampai dengan selamat di kawasan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Plant 1 di Karawang.

Sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya melihat upaya dari PT Toyota untuk untuk berbagi ilmu pada masyarakat sekitar termasuk memfasilitasi kami untuk mengadakan digital journalism education trip.

Bagaimana tidak, kami justru diijinkan untuk melihat para pekerja melakukan tugasnya. Kalau tidak peduli mana mungkin kami diijinkan untuk sekedar melihat kerumitan di dalam pabrik. Bukankah salah salah kami malah justru membuat repot mereka. Tapi ternyata kami disambut dengan begitu ramahnya.

Kami justru diantar mengunjungi beberapa lokasi untuk melihat step by step produksi mobil. Bagaimana sebuah lembaran lempengan baja yang awalnya tak menarik bisa menjadi sebuah mobil mewah. Yang bikin penumpangnya jadi tambah keren 180 derajat. Tambah ganteng dan cantik begitu mengendarai mobil. Apalagi warnanya sesuai dengan keinginan hati. Wow…menyenangkannya bukan?

Sebelum hadir di sini, kami diwanti-wanti untuk memakai pakaian panjang, tebal dan sepatu tertutup. Setelah sambutan dari pihak Toyota, kami di bagi 2 group tour, berkeliling dari pembuatan bahan mobil hingga jadi sebuah mobil. Di sinilah saya tahu bahwa ternyata pakaian terbuka berbahaya jika masuk area pabrik karena dikhawatirkan ada percikan api yang tak diprediksikan hadir di tengah kami berkeliling area pabrik.

Sayangnya saya dan temen-teman tidak bisa sekalian juga mencoba naik mobil atau test drive.

Pegawai2 sangat sibuk dan konsentrasi hingga keberadaan kami seakan tak mengganngu mereka. Padahal kami berkeliling pabrik mengamati cara kerja mereka dan menyaksikkan kecanggihan robot-robot produksi juga ketrampilan para pekerja yang mayoritas laki-laki dan merupakan WNI lho.

PT Toyota-Astra Motor atau biasa disingkat dengan TAM merupakan Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) Mobil Toyota dan Lexus di Indonesia. TAM merupakan perusahaan joint venture antara PT. Astra International Tbk dengan persentase saham awalnya 51% dan Toyota Motor Corporation, Jepang dengan persentase saham 49 %.

Namun pada awal Februari 2017, 1% saham dijual ke Toyota Motor Jepang. Sehingga kini imbang 50% dan 50% sahamnya

Meskipun 50% pemilikan saham adalah Jepang, namun di proses produksi dilakukan hampir 95% oleh pribumi. Jelaslah kehadiran TMMN cukup membantu terserapnya usia produktif bangsa kita di pasar kerja.

Kami menyaksikan mobil-mobil tersebut di test di dalam pabrik sebelum di distribusi ke gerai-gerai penjualan. Oh ya saya baru tahu ternyata mobil-mobil yang ada di dalam pabrik itu sudah ada yang memesan lho. Jadi bisa dibilang kebutuhan akan mobil terus kontinyu ada di tengah inflasi dan problema kemacetan di Indonesia.

Setelah tour, acara ditutup dg tanya jawab di meeting room danjam 16.00 WIB, acara di selesai bersamaan dengan jam operasional pabrik yang juga tutup.

Di bis saat perjalanan pulang saya merenung, betapa kuatnya para pekerja pabrik itu bekerja. Suara riuhnya berbagai peralatan berat, robot yang membantu produksi bahkan cukup membuat saya pening. Wkwkwk, pantaslah jika saya tidak jadi pegawai pabrik mobil ini karena saya lebih suka ketenangan.

Apalagi melihat betapa tekunnya pegawai pabrik melakukan pekerjaan yang sama berulang hingga beberapa jam tiap harinya. Saya kok tambah pening ya, lihat satu orang dengan cekatan selama beberapa jam hanya ngurusin mur dan baut. Ada yang berjam-jam hanya ngurusin lempengan-lempegan baja, ataupun hanya memainkan cat saja. Dengan target 1 pekerjaan untuk tiap item mobil hanya dilakukan 1,6 menit saja. Wow kan? Ya iyalah, 1 mobil ternyata cukup dikerjakan 19 jam saja, mulai dari lempengan baja sampai jadi mobil mewah.

Saya melihat mereka cukup ahli dengan bidangnya masing-masing. Yang lupa saya tanyakan, apakah mereka ada sistem rolling bagian agar tak jemu? Saya saja yang melihat beberapa jam saja begitu jenuh dengan pekerjaan tiap orang. Terbiasa bekerja multitasking jujur membuat saya heran, kok tidak jenuh bagaimana manajemen stress diterapkan ke mereka ditengah kedislipinan kerja yang luar biasa. Mereka manusia lho bukan robot.

Hal ini juga mebuat saya penasaran apakah mereka ahli jika dilepas untuk memperbaiki semua bagian ? Bisa jadi yang biasanya bertugas mengecat kesulitan memperbaiki bagian mesin jika sesekali ada kerusakan.

Namun saya akhirnya tersadar, “the right man must right place”. Jangan letakkan orang di tempat yang salah. Spesialisasi pegawai itu adalah sebuah strategi bagus dibalik kelemahannya. Artinya hanya orang-orang yang ahli yang ditempatkan di bidangnya agar menghasilkan produksi yang terbaik.

 

Sebuah pekerjaan yang hadir dari sebuah hobi akan dilakukan pelakunya dengan senang hati. Mungkin para pekerja pabrik memang hobi otomotif, jadi tak boleh dong saya menjustice kalau mereka jenuh ya kan?

Toh upaya TMMIN mempertahankan jumlah pekerja manusia lebih banyak daripada robot perlu kita acungi jempol. Coba kalau jumlah robot ditambah, bagaimana nasib pengangguran akan bertambah kan?

Ini juga upaya mendidik anak bangsa agar lebih maju. Di dalam pabrik bahkan saya melihat kedisiplinan pegawainya luar biasa. Mereka bekerja ataupun istirahat sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Tak ada istilah ‘leyeh-leyeh’ saat jam kerja. Bahkan saya dibuat takjub dengan disiplinnya mereka berjalan mengikuti garis kuning yang disediakan untuk pejalan kaki dan menoleh kiri dan kanan sebelum menyeberang.

Nyaris tak saya lihat yang berani melintas di area tak aman untuk pejalan kaki. Saya yakin tak mudah membentuk kedisiplinan ini.

 

 

9 thoughts on “Optimisme Industri Otomotif Toyota Astra dibalik Meningkatnya Problematika Kemacetan”

  1. Dulu saya juga sempat bekerja di perusahaan spare part otomotif. Pegawai memang dituntut sangat disiplin terutama yg di warehouse. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *