Danone AQUA Hadapi Tantangan Pelestarian Air dengan Berbagai Konservasi Alam

Tak banyak yang tahu, bahwa jumlah atau kuantitas air yang ada di dunia sebenarnya tetap, yang berbeda adalah property pembentuknya, tempat dan kandungannya. Seperti kita tahu di suatu tempat bahkan dulunya dengan mudah air bisa didapatkan, namun kini bisa jadi di tempat tersebut terjadi krisis air. Hal ini misalnya terjadi di Afrika Selatan, di sana air sangat sulit di dapatkan. Tak sekedar masalah sanitasi, tapi juga untuk kebutuhan minum sehari-hari. Kasus krisis air ini bahkan membuat warga Afrika Selatan akan dievakuasi.

Jika manusia bisa kuat hidup dengan sebulan tidak makan, maka mereka hanya kuat seminggu tidak minum. Betapa air memiliki peran luar biasa untuk keberlangsungan hidup kita kan? Air mineral untuk minum pun masih begitu mudah dan murah untuk kita dapatkan. Di Australia, 1 liter air minum kemasan harus kita tebus dengan nilai 3-4 dollar, senilai 30-40 ribu rupiah. Betapa kita perlu bersyukur dengan kondisi kita di Indonesia.

Permasalahan air semakin memprihatinkan dan sudah menjadi permasalahan dunia. Selama ini kita di Indonesia mungkin belum atau bahkan tidak merasakan masalah ini demikian parah. Mungkin saat kemarau baru sawah ladang kita yang kekeringan, kita masih bisa minum bahkan menggunakan air untuk MCK. Nah bagaimana jika kondisinya sumur atau sumber air yang umurnya telah puluhan tahun tiba-tiba kering? Apa yang salah? Bisakah diperbaiki?

Beberapa waktu lalu, beberapa titik di daerah Sukabumi-Jawa Barat, tempat 3 pabrik Danone-AQUA didirikan sempat mengalami krisis air. Suatu hal yang terdengar agak aneh, karena di sana terkenal banyak sumber air. Bahkan beberapa merk AMDK selain AQUA juga mendirikan pabrik di sana. Bagaimana bisa? Bukankah masih banyak pepohonan tumbuh, dan bisa menyimpan air. Itu yang ada di benak saya.

Selama ini mindset yang ada di masyarakat yaitu air adalah anugerah dari Allah swt, yang melimpah dan sangat tidak mungkin habis, sehingga mereka merasa tidak perlu melestarikan air. Selama ini ilmu pengairan dianggap ilmu yang gampang, sehinggatiap orang merasa tahu dan tak perlu dipelajari dengan ahlinya.

Setelah beberapa kasus timbul, termasuk sebuah sumber air di daerah Pandaan Sidoarjo yang juga mengering 2 tahun ini, sepertinya konservasi alam untuk pelestarian air perlu dikaji bersama masyarakat. Dengan duduk bersama, diharapkan masyarakat bisa ikut berpartisipasi bersama-sama melestarikan air.

Sesungguhnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim berdampak pada penurunan kualitas air di seluruh dunia. Menghadapi tantangan dalam pelestarian air yang semakin berat pada abad 21 membuat Danone-AQUA fokus pada Solusi Berbasis Alam (SBA) sesuai dengan tema Hari Air 2018 yaitu “Alam untuk Air” atau “Nature for Water”. Sesungguhnya jawaban permasalahan alam ada di alam itu sendiri.

Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret , pertama ditetapkan sejak tahun 1992, merupakan sebuah kampanye untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya pelestarian air. Tahun ini dalam merayakan Hari Air 2018, Danone- AQUA mengajak kami para blogger dan wartawan dalam acara #BincangAir agar bisa bersama-sama belajar bagaimana alam memberikan solusi terhadap pelestarian air.

Bapak Arif Mujahidin, selaku Corporate Communicatin Director Danone Indnesia saat memberikan sambutan “Bagi kami, air memiliki peranan penting untuk kehidupan makhluk hidup dan karenanya Danone –AQUA selalu berupaa untuk turut menjaga kelestarian air dan lingkungan. Salah satunya dengan menggunakan cara alamiah dengan memanfaatkan potensi alam untuk menyelesaikan tantangan terkait air.”

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Danone-AQUA melalui konservasi air dengan memanfaatkan solusi ilmiah yang digabung dengan pembangunan infrastruktur dengan tujuan konservasi (grey infrastruktur) seperti yang sudah dilakukan Danone-AQUA di daerah Mekarsari, Sukabumi. Hal ini dilakukan oleh Danone-AQUA bekerja sama dengan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) IPB Bogor dalam mengembangkan permdelan Sil Water Analysis Tools (SWAT) di Hulu Sub DAS Cicatih, Mekarsari, Sukabumi.

Menurut Pak Karyanto Wibowo selaku Suistanable Development Director Danone Indonesia, “SWAT atau yang dikenal piranti analisis air dan tanah ini memiliki beberapa manfaat diantaranya membangun strategi perencanaan konservasi yang efektif. Dengan SWAt, kami dapat melakukan penanaman pohon dan knservasi yang efektif.

Dengan SWAT, kami dapat melakukan penanaman pohon dan konservasi sipil teknis yang tepat dan sesuai dngan lahan yang ada. Selain itu dengan adanya piranti ini, kami juga dapat menghitung dampak dari upaa pengelolaan lahan. Seperti menghitung tingkat resapan air ke dalam tanah, pengendapan tanah hingga penggunaan kimia dari praktek pertanian. Lebih jauh, SWAT juga bermanfaat untuk memprediksi resiko timbulnya bencana alam.”

Dengan menggunakan rekomendasi pada hasil SWAT Danone-AQUA menjalankan program konservasi air di wilayah Mekarsari dan Babakan Pari, Sukabumi, diantaranya:
1. Pembuatan lubang biopori di rumah karyawan Danone Aqua, perumahan warga dan lahan hutan di sekitar pabrik Danone- AQUA
2. Penanaman 580.000 pohon di delapan desa, yaitu di Desa Pasawahan, Tenjolaya, Cisaat, Kutajaya, Jayabakti, Tangkil, Girijaya dan Cidahu.
3. Pembuatan kolam resapan air (water pond) yaitu upaya limpahan air ke kolam dimasukkan ke dalam tanah lewat lubang resapan yang ada di sekitar kolam.
4. Pembangunan Pemanen Air Hujan (PAH) yaitu memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bagi mushola, masjid, madrasah, sekolah dan rumah warga yang tersebar di Desa Pasawahan, Tenjolaya dan Cisaat.
5. Pembuatan DAM Resapan Air yang berfungsi untuk menahan air agar air masuk ke dalam tanah.
6. Pembuatan 40 sumur resapan dengan kapasitas resapan sebesar 2.200 meter kubik untuk setiap sumur resaspan yang tersebebar di tiga Desa yaitu Pasawahan, Tenjolaya dan Cisaat. Sumur respapan berfungsi sebagai mengimbuh sumur masyarakat dan mengurangi genangan atau banjir serta membantu menyuburkan tanah.

Sejak program konservasi dijalankan oleh Danone-AQUA sudah 695 warga mendapat manfaat langsung. Berbagai inovasi konservasi berbasis alam ini juga telah terbukti membawa perubahan positif pada ketersediaan air di lingkungan masyarakat sekitar pabrik AQUA.“Komitmen kami program konservasi akan terus ditingkatkan dengan harapan bermanfaat untuk pelestarian air dan lingkungan serta berguna bagi masyarakat,” tutup Pak Karyano.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *